
Pendahuluan
Ekonomi kreatif Indonesia berkembang sangat pesat. Ribuan pekerja kreatif independen, desainer grafis, videografer, fotografer, podcaster, dan bahkan agensi kecil bermunculan, menawarkan jasa mereka melalui media sosial, platform freelance, dan jaringan pribadi. Namun, di balik semangat kreatif ini terdapat satu kelemahan mendasar yang masih umum terjadi: manajemen kontrak dan invoice yang terlalu sederhana.
Banyak pekerja kreatif masih terbiasa menulis invoice hanya dengan satu baris, misalnya: “Jasa pembuatan video promosi: Rp15.000.000” atau: “Desain logo + kemasan: Rp7.500.000.” Cara ini praktis dan tidak bertele-tele. Namun bagi para pekerja kreatif, invoice satu baris tanpa rincian layanan yang mendetail membawa banyak risiko dari perspektif hukum perdata. Jika ada perbedaan persepsi tentang ruang lingkup pekerjaan, klien dapat dengan mudah mempersoalkan jumlah invoice, menganggapnya tidak wajar dan mark-up, atau bahkan menuntut karena adanya pelanggaran kontrak.
Dalam praktiknya, invoice dapat dianggap sebagai tagihan biasa, namun secara hukum, invoice merupakan bukti pembelian jasa atau pekerjaan berdasarkan kontrak yang memenuhi syarat sebagai bukti dokumenter menurut Pasal 1866 KUH Perdata jo. Pasal 164 HIR. Jika invoice berisi informasi yang tidak lengkap, dan masalah tersebut dibawa ke pengadilan atau mediator, maka informasi yang tersedia tidak memadai untuk menentukan kepatuhan terhadap ketentuan kontrak.
Kasus yang baru-baru ini menarik perhatian publik adalah kasus Amsal Christy Sitepu, seorang videografer dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Amsal, yang merupakan Direktur CV Promiseland, menghadapi dakwaan korupsi karena penggalangan dana untuk pembuatan video profil di 20 desa selama periode 2020 hingga 2022. Menurut Jaksa Penuntut Umum, jumlah uang yang diusulkan Amsal per desa, yaitu Rp30 juta per desa, tidak dapat dibenarkan karena negara menemukan bahwa biaya sebenarnya pembuatan film per desa adalah Rp24,1 juta. Akibatnya, Amsal dijatuhi hukuman penjara dua tahun dan harus membayar denda sebesar Rp202 juta.
Berdasarkan pemberitaan Kompas.com dan Antaranews, meski Amsal akhirnya dinyatakan tidak bersalah oleh PN Medan pada 1 April 2026 dan putusan tersebut sudah final karena Kejaksaan tidak mengajukan banding, kasus ini tetap menjadi tamparan keras dan pembelajaran penting bagi seluruh pemangku kepentingan ekonomi kreatif. Dari kasus ini terlihat jelas betapa seriusnya konsekuensi yang mungkin timbul karena biaya komponen layanan tidak dijabarkan dengan jelas dalam kontrak atau invoice. Amsal menjalani prosedur hukum yang melelahkan termasuk penahanannya, hanya karena biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pekerjaan tersebut dinilai tidak masuk akal. Dengan kata lain, pekerja kreatif dapat berada dalam posisi hukum yang sulit jika komponen dari layanan yang diberikan tidak disebutkan secara jelas dalam kontrak atau invoice terkait.
Sebagai pembelaannya, Amsal menunjuk pada ketidakadilan yang dilakukan auditor dalam menilai elemen kreatif seperti ide, penyuntingan, dan pengisi suara dengan nilai nol rupiah. Menurutnya, tidak ada niat jahat atau mens rea di balik tindakan korupsi tersebut, dan pengeluaran yang berkaitan dengan kreativitas seharusnya tidak dianggap fiktif atau tidak bernilai. Namun, apa yang dialami Amsal seharusnya tidak terjadi jika ada kontrak kerja yang terperinci sejak awal.
Dari kasus Amsal, kita belajar bahwa ketentuan yang dapat menghindari kejadian serupa perlu dipahami. Artikel ini akan membahas mengapa kontrak dan invoice kreatif harus itemized atau dirinci, komponen yang perlu dirinci, pentingnya hak cipta, lalu mengapa invoice satu baris yang tidak lengkap bisa berisiko?
Kontrak yang tidak mengatur status hak cipta berpotensi merugikan pekerja kreatif di kemudian hari. Kesalahan yang sangat berbahaya adalah tidak mendefinisikan posisi hak cipta dengan benar dalam kontrak. Para profesional kreatif cenderung percaya bahwa setelah pembayaran, hak cipta langsung berpindah ke klien.
Menurut Pasal 40 UUHC, objek hak cipta seperti foto, video, elemen grafis, musik, dll., segera menjadi milik pencipta setelah terwujud. Menurut Pasal 16 ayat (2) UUHC, hak cipta hanya dapat dialihkan secara tertulis. Jika tidak, klien hanya mendapatkan hak implisit untuk menggunakan objek yang dibuat untuk tujuan yang dimaksudkan dari pesanan klien.
Oleh karena itu, penting bahwa kontrak kreatif harus mencakup setidaknya salah satu dari dua alternatif berikut:
Pada kenyataannya, jika valuasi proyek di bawah Rp 50 juta, lisensi hak cipta sudah cukup untuk menutupinya. Pengalihan hak cipta penuh berlaku untuk proyek-proyek besar seperti film atau merek dagang, yang memiliki nilai jauh lebih besar.
Invoice terperinci beserta kontrak kerja yang menjelaskan setiap tahapan proses kerja juga menjadi solusi untuk melindungi para pekerja kreatif. Selain melindungi pekerja kreatif dari tuduhan tak berdasar, praktik ini juga menumbuhkan kepercayaan klien terhadap nilai tagihan.
Secara hukum, invoice yang terperinci memberikan kejelasan mengenai nilai kontrak yang membahas syarat-syarat yang ditetapkan dalam Pasal 1320 KUH Perdata tentang "suatu hal tertentu" dan "alasan yang sah", yang merupakan beberapa syarat yang ditetapkan agar kontrak tetap sah dan tidak batal karena ketidakpastian mengenai apa yang diberikan. Selain itu, kontrak yang baik harus memberikan batasan pada perubahan yang dilakukan dan ketentuan untuk pekerjaan tambahan, karena klien mungkin selalu meminta pekerjaan tambahan tanpa biaya tambahan.
Berdasarkan praktik terbaik dan pertimbangan hukum di atas, berikut adalah komponen minimal yang harus diuraikan secara rinci atau itemized dalam kontrak dan/atau invoice:
Dengan cara ini, para pekerja kreatif memiliki perlindungan hukum yang baik. Ketika klien mengeluhkan harga yang terlalu tinggi, para pekerja kreatif dapat memberikan analisis alokasi biaya per komponen dan ketika klien meminta revisi ke-10, para pekerja kreatif dapat menggunakan ketentuan tentang revisi tersebut.
Kesimpulan
Menyusun kontrak atau invoice yang lengkap bukanlah hal yang berlebihan. Hukum memandang ini sebagai tindakan keterbukaan dan integritas yang melindungi pekerja kreatif dari tuduhan mark-up, pelanggaran kontrak ataupun pelanggaran hak cipta.
Dari pembahasan di atas, beberapa hal terpenting yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut:
Oleh karena itu, kontrak yang lengkap menjadi tameng perlindungan utama bagi pekerja kreatif ketika klien mempersoalkan nilai tagihan atau coba-coba tidak membayar sesuai kesepakatan.
Daftar Referensi
Penulis : Muhammad Raihan Suhidin Putra
Jabatan : Associate