Manfaat Teori Cybernetics dalam Pelaksanaan Putusan MK

Manfaat Teori Cybernetics dalam Pelaksanaan Putusan MK

2026-07-22

Cybernetics merupakan salah satu teori mengenai sistem mekanis (mechanism system) yang secara analogis diterapkan dalam kehidupan manusia (living organism-human life). Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Norbert Wiener, seorang Guru Besar Matematika di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Istilah cybernetics sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu kubernetes, yang memiliki arti steersman atau governor. Dalam bahasa Indonesia, istilah tersebut dapat dimaknai sebagai “alat” atau “pengatur” (on an engine).

Wiener mengembangkan teori ini berdasarkan prinsip-prinsip fisika dan matematika, terutama teori probabilitas. Meskipun berakar dari perkembangan ilmu fisika, Cybernetics tidak dapat dipahami hanya sebagai teori fisika semata. Teori ini lebih tepat dipandang sebagai transformasi teori komunikasi mekanis yang berlandaskan fisika dan matematika ke dalam kehidupan manusia. Dalam teori ini, Wiener menempatkan perintah (commands) sebagai dasar utama sistem komunikasi. Perintah digunakan manusia sebagai sarana untuk mengatur lingkungannya.

Sebagai suatu bentuk informasi, perintah berfungsi sebagai media yang menjembatani kondisi yang semula tidak teratur menuju keadaan yang lebih teratur. Akan tetapi, perintah yang disampaikan dari satu pihak kepada pihak lain melalui sistem komunikasi tidak selalu dipahami secara utuh oleh penerimanya. Tindakan maupun sikap yang ditunjukkan penerima sebagai bentuk respons atas perintah tersebut mencerminkan tingkat pemahamannya terhadap pesan yang diterima. Oleh karena itu, sering kali terdapat kesenjangan antara perintah yang diberikan dengan reaksi yang muncul, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman atau perbedaan penafsiran.

Menurut Wiener, tidak terdapat perbedaan yang mendasar antara proses pemberian dan penerimaan perintah pada mesin maupun manusia. Manusia menerima perintah melalui sistem saraf yang bekerja menyerupai sistem mekanis, yaitu dengan melakukan proses seleksi terhadap pesan yang diterima. Proses tersebut berlangsung melalui sistem saraf yang berfungsi sebagai organ seleksi (sensory organ), setelah terlebih dahulu pesan diterima oleh organ penerima (receptor organ), seperti saraf kinesthesia (kinaesthesia), yang keseluruhan prosesnya dikoordinasikan oleh sistem saraf manusia.

Cybernetics juga memberikan perhatian besar terhadap proses penyampaian pesan (messages) dalam komunikasi. Fokus utamanya terletak pada kesamaan karakteristik yang menjadi dasar berlangsungnya proses komunikasi tersebut. Pada akhirnya, Cybernetics berkembang sebagai teori mengenai pesan, khususnya yang berkaitan dengan kontrol otomatis dalam sistem penyampaian pesan yang pada hakikatnya merupakan suatu sistem kontrol mekanis. Dengan demikian, Cybernetics dipahami sebagai teori komunikasi satu arah, yaitu komunikasi antara pemberi pesan dan penerima pesan.

Dalam sistem tersebut, pemberi pesan merupakan pihak pertama yang menyampaikan pesan kepada pihak kedua sebagai penerima. Pesan tersebut memunculkan reaksi dari pihak kedua yang berupa pemberian informasi kembali kepada pihak pertama sesuai dengan kehendak pihak pertama. Tanpa adanya pesan dari pihak pertama, pihak kedua tidak akan memberikan respons. Selain sebagai pengirim pesan, pihak pertama juga berperan sebagai pusat energi yang mendorong timbulnya reaksi pada pihak kedua sekaligus sebagai pengendali (controller) yang mengarahkan tindakan pihak kedua agar sesuai dengan kehendaknya. Oleh sebab itu, teori ini juga dikenal sebagai Teori Energi Searah atau Teori Kontrol Searah.

Menurut Wiener, hakikat sistem komunikasi adalah sistem perintah satu arah sekaligus sistem pengendalian satu arah. Sistem komunikasi dipahami sebagai hubungan antara pemberi pesan (Komunikan I) dan penerima pesan (Komunikan II). Komunikan I menyampaikan pesan kepada Komunikan II, sedangkan respons atau umpan balik dari Komunikan II dipandang semata-mata sebagai reaksi otomatis yang timbul akibat adanya aksi berupa pemberian pesan oleh Komunikan I. Pengendalian yang dilakukan secara satu arah oleh Komunikan I menyebabkan Komunikan II bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah yang diberikan. Dalam formulasi kedua Wiener, yaitu control the action of another person, konsep perintah satu arah ini semakin dipertegas. Menurutnya, sistem pesan dan sistem kontrol otomatis pada hakikatnya merupakan sistem pemberian perintah (imperative mood-order) secara satu arah.

 

Referensi:

  1. Buku Mahkamah Konstitusi dari Negative Legislature ke Positive Legislature - Prof. Dr. Martitah, M.Hum.

  2. Buku The Human Use of Human Beings, Cybernetics, and Society - Norbert Wiene

Penulis : Natasha Fortunita
Jabatan : Associate

Category:Edukasi Hukum
Share:
Copyright © 2026 Alchemist Group All rights reserved.